Rektor UMI Ingatkan Mahasiswa Gunakan AI untuk Belajar, Bukan Menipu
Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof. Dr. Hambali Thalib mengingatkan mahasiswa agar menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bertanggung jawab.
Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat untuk membantu proses belajar dan meningkatkan produktivitas. Teknologi tersebut tidak boleh digunakan untuk menggantikan tanggung jawab berpikir atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Prof. Hambali menyampaikan pesan tersebut saat membuka Pekan Pesantren di Pesantren Darul Mukhsinin Padanglampe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan mahasiswa baru Fakultas Hukum UMI.
Baca Juga “Alat Deteksi Menu MBG Berbasis AI“
Rektor Dorong Mahasiswa Manfaatkan AI Secara Etis
Prof. Hambali meminta mahasiswa memahami perkembangan teknologi sekaligus menjaga integritas akademik. Ia menilai kemampuan menggunakan AI perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan kemampuan berpikir kritis.
“Gunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, bukan menghilangkan integritas,” ujar Prof. Hambali.
Pesan tersebut menjadi penting karena AI kini semakin mudah digunakan untuk mencari informasi, menyusun ide, membantu analisis, dan mendukung berbagai pekerjaan akademik.
Namun, mahasiswa tetap perlu memahami materi yang dipelajari. Penggunaan AI secara berlebihan tanpa proses verifikasi dapat membuat mahasiswa kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri.
Perubahan Teknologi Mengubah Dunia Pendidikan
Prof. Hambali menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap ekonomi dan dunia kerja. Perubahan tersebut juga memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, serta mengambil keputusan.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan digital yang memadai. Kemampuan tersebut tidak hanya mencakup penggunaan perangkat dan aplikasi, tetapi juga pemahaman terhadap batasan serta risiko teknologi.
Rektor ingin mahasiswa UMI mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan. Menurutnya, kecerdasan teknologi harus tetap diimbangi dengan karakter dan tanggung jawab.
“Saya ingin mahasiswa UMI menjadi AI literate, digitally competent, tetapi tetap humanis dan berakhlak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tetap harus memiliki hati nurani. Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan agar pemanfaatan AI tidak menghilangkan nilai etika dalam kehidupan akademik.
AI Bukan Pengganti Tanggung Jawab Berpikir
Penggunaan AI dalam pendidikan dapat membantu mahasiswa mengembangkan berbagai kemampuan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencari sudut pandang, merangkum informasi, menyusun kerangka tulisan, atau memahami konsep yang sulit.
Meski demikian, hasil dari AI tetap perlu diperiksa dan dipahami kembali. Mahasiswa bertanggung jawab terhadap tugas yang dikumpulkan, termasuk memastikan informasi yang digunakan akurat dan sesuai dengan ketentuan akademik.
AI juga tidak seharusnya digunakan untuk menyontek atau menghasilkan tugas secara penuh tanpa keterlibatan mahasiswa. Pola tersebut berisiko mengurangi proses pembelajaran dan bertentangan dengan prinsip integritas akademik.
Karena itu, literasi AI perlu mencakup kemampuan menggunakan teknologi sekaligus menilai hasilnya. Mahasiswa harus mampu membedakan informasi yang dapat dipercaya dari keluaran AI yang masih membutuhkan pemeriksaan.
UMI Perkuat Karakter dan Kompetensi Mahasiswa
Selain literasi digital, Prof. Hambali menekankan pentingnya penguatan iman dan ketakwaan bagi mahasiswa UMI. Menurutnya, identitas Islam tidak cukup hanya tercermin dari nama institusi.
Nilai Islam perlu terlihat dalam perilaku seluruh sivitas akademika. Karakter tersebut diharapkan menjadi fondasi ketika mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan kerja.
Prof. Hambali juga mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Penguasaan teknologi, kemampuan riset, bahasa asing, dan komunikasi menjadi beberapa aspek yang perlu diperkuat.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya siap menghadapi perubahan di tingkat nasional. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan bersaing dalam lingkungan yang semakin terhubung secara global.
Rektor Dorong Penguasaan Bahasa Asing dan Jejaring Global
UMI saat ini memperkuat langkah menuju kampus dengan reputasi internasional. Untuk mendukung arah tersebut, mahasiswa dan dosen didorong memperluas wawasan serta membangun jejaring di luar Indonesia.
Prof. Hambali meminta mahasiswa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Kemampuan tersebut dapat membantu mahasiswa mengakses literatur internasional, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, serta membangun komunikasi dengan komunitas akademik global.
“Think globally, act locally. Perkuat Bahasa Inggris dan bangun jejaring internasional,” ujarnya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi digital dan kemampuan bahasa asing perlu berjalan bersama. Mahasiswa juga perlu mempertahankan karakter serta nilai lokal ketika memasuki lingkungan akademik dan profesional yang lebih luas.
Literasi AI Perlu Diimbangi Integritas Akademik
Perkembangan AI membuat mahasiswa memiliki akses terhadap berbagai alat yang dapat mendukung aktivitas akademik. Kondisi tersebut membuka peluang untuk mempercepat proses belajar sekaligus meningkatkan produktivitas.
Namun, teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab akademik. Mahasiswa tetap perlu membaca, memahami, menganalisis, dan menyampaikan gagasan dengan kemampuan sendiri.
Penggunaan AI secara bijak juga membutuhkan transparansi sesuai aturan institusi pendidikan. Ketika penggunaan AI diperbolehkan, mahasiswa perlu mengikuti ketentuan mengenai cara pemanfaatan dan pencantuman bantuan teknologi tersebut.
Mahasiswa Didorong Menjadi SDM Unggul dan Berkarakter
Pesan Prof. Hambali menempatkan AI sebagai bagian dari perubahan kompetensi yang harus dihadapi mahasiswa. Penguasaan teknologi menjadi penting, tetapi kemampuan tersebut harus disertai etika, kemampuan berpikir, dan karakter.
UMI juga mendorong mahasiswa memperkuat iman, kompetensi profesional, kemampuan bahasa, riset, serta komunikasi. Kombinasi tersebut diharapkan membentuk sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ke depan, kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab akan semakin penting di dunia pendidikan dan pekerjaan. Mahasiswa perlu memanfaatkan teknologi sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, AI dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kemampuan manusia. Prinsip yang ditekankan Prof. Hambali menjadi relevan bagi mahasiswa yang menghadapi perubahan teknologi dengan tetap mempertahankan integritas.
Baca Juga “AI Mulai Dipakai Hotel untuk Layani Tamu, Bisa Ngobrol Lewat Telepon“