OpenAI Perkuat Tim AI dengan Rekrut Eks Bos Gemini

OpenAI Rekrut Mantan Bos Google Gemini, Persaingan Talenta AI Global Kian Ketat

Persaingan antara perusahaan teknologi besar dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. OpenAI kini berhasil merekrut Noam Shazeer, salah satu sosok penting di balik pengembangan Gemini, model AI andalan Google yang menjadi pesaing utama ChatGPT.

Kabar kepindahan tersebut diumumkan langsung oleh Shazeer melalui akun X miliknya. Ia menyampaikan antusiasmenya untuk bergabung dengan OpenAI dan bekerja bersama tim pengembang AI di perusahaan tersebut.

“Saya sangat gembira mengumumkan bahwa saya akan bergabung dengan OpenAI dan berharap dapat bekerja sama dengan tim yang luar biasa di sana,” tulis Noam Shazeer.

Hingga saat ini, OpenAI maupun Shazeer belum mengungkap secara rinci posisi yang akan ia tempati. Namun, perpindahan tokoh AI berpengalaman ini menjadi salah satu langkah strategis yang mendapat perhatian luas dari industri teknologi.

baca juga”Kelompok Ransomware Pakai Teknisi Palsu untuk Bobol Perusahaan

Perjalanan Noam Shazeer dari Google, Character.AI, hingga OpenAI

Noam Shazeer memiliki rekam jejak panjang dalam dunia kecerdasan buatan. Berdasarkan informasi dari LinkedIn, ia mulai bergabung dengan Google sebagai insinyur perangkat lunak pada tahun 2000.

Setelah lebih dari dua dekade berkarier di Google, Shazeer meninggalkan perusahaan tersebut pada 2021 untuk mendirikan Character.AI. Startup AI percakapan itu berkembang pesat dan menarik perhatian industri teknologi global.

Pada 2024, Shazeer kembali ke Google melalui kesepakatan lisensi antara Google dan Character.AI. Saat itu, kembalinya Shazeer dinilai sebagai strategi Google untuk memperkuat pengembangan AI internal serta meningkatkan kemampuan Gemini dalam menghadapi persaingan dengan OpenAI.

Kini, keputusan Shazeer untuk pindah ke OpenAI menunjukkan semakin sengitnya perebutan peneliti dan insinyur AI terbaik di dunia. Talenta dengan pengalaman membangun model bahasa besar menjadi aset penting dalam menentukan kecepatan inovasi sebuah perusahaan.

OpenAI Ungkap Upaya Penyalahgunaan ChatGPT untuk Kampanye Propaganda

Di tengah perkembangan industri AI, OpenAI juga mengungkap temuan terkait penyalahgunaan ChatGPT oleh kelompok yang diduga berasal dari China untuk menjalankan operasi pengaruh terhadap opini publik di Amerika Serikat.

Dalam laporan resminya, OpenAI mengidentifikasi salah satu jaringan tersebut dengan nama “Data Center Bandwagon”. Kelompok itu menggunakan ChatGPT untuk membuat tulisan berbahasa Inggris dan konten visual, termasuk komik yang mengkritik pembangunan pusat data AI di AS.

Narasi yang disebarkan menyoroti dampak konsumsi energi pusat data, seperti meningkatnya kebutuhan listrik dan potensi kenaikan biaya tagihan masyarakat sekitar.

Menurut temuan OpenAI, pelaku kemudian menyamar sebagai warga Amerika Serikat di media sosial untuk menyebarluaskan konten tersebut. Investigasi juga menemukan dokumen strategi yang berisi panduan membuat akun palsu dan metode memengaruhi percakapan publik.

Kampanye Digital Juga Menargetkan Aktivis dan Isu Kebijakan AS

Selain menyasar perdebatan mengenai pusat data AI, jaringan tersebut juga disebut melakukan kampanye terhadap kelompok diaspora China yang kritis terhadap pemerintah Beijing.

Pelaku meminta ChatGPT menghasilkan komentar bernada menyerang kepada aktivis dan pengamat politik yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah China. Mereka juga menyamar sebagai imigran dan profesional China yang tinggal di Amerika Serikat.

Kelompok lain yang ditemukan OpenAI diketahui menyebarkan konten yang mengkritik kebijakan tarif serta teknologi Amerika Serikat. Konten tersebut dibuat dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Italia, Jepang, dan Mandarin Tradisional untuk menjangkau audiens internasional.

Meski memiliki strategi yang terstruktur, OpenAI menyatakan operasi tersebut gagal memperoleh interaksi signifikan dari pengguna asli di platform media sosial.

Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya memicu persaingan teknologi antara perusahaan besar seperti OpenAI dan Google, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait keamanan digital, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan teknologi AI di tingkat global.

baca juga”CELIOS: Pajak dari Meta, Google dkk Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *