Lestari Moerdijat Dorong Penguasaan AI untuk Perkuat UMKM dan Pemberdayaan Disabilitas
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya penguasaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat daya saing UMKM lokal dan memperluas pemberdayaan penyandang disabilitas di era digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Lestari, yang akrab disapa Rerie, dalam sambutan daring pada pelatihan AI yang diselenggarakan oleh Alunjiva bersama Microsoft di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah.
Menurut Rerie, perkembangan teknologi AI membuka peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, dan menciptakan lapangan kerja baru berbasis digital. Ia menilai penguasaan teknologi menjadi faktor penting agar masyarakat tidak tertinggal dalam transformasi ekonomi digital.
Baca Juga “Smart SISKA 4.0 Bidik Efisiensi 50%, Teknologi AI dan IoT Siap Ubah Integrasi Sawit-Sapi“
AI Dinilai Mampu Percepat Pengembangan UMKM Lokal
Rerie menyebut teknologi AI dapat memberikan akselerasi besar bagi pengembangan produk lokal dan berbagai aktivitas ekonomi kreatif. Dengan pemanfaatan AI, pelaku UMKM dinilai dapat meningkatkan efisiensi usaha sekaligus menjangkau pasar digital yang lebih luas.
Ia menilai teknologi tersebut mampu membantu pelaku usaha dalam berbagai aspek, mulai dari pemasaran digital, analisis tren pasar, hingga pengembangan layanan pelanggan yang lebih efektif.
Menurutnya, produk unggulan daerah memiliki peluang lebih besar dikenal secara nasional bahkan global jika didukung pemanfaatan teknologi digital yang tepat.
Rerie juga mengungkapkan bahwa tingkat penggunaan AI di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan hasil survei 2025-2026, sebanyak 64,7 persen responden di Indonesia pernah menggunakan teknologi AI untuk berbagai kebutuhan.
Mayoritas masyarakat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, belajar, hingga kebutuhan belanja daring. Indonesia bahkan disebut menjadi salah satu dari delapan negara dengan tingkat penggunaan AI yang cukup aktif di dunia.
Penguasaan Teknologi Harus Diimbangi Kemampuan Berpikir Kritis
Meski penggunaan AI berkembang pesat, Rerie mengingatkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Ia menilai kemampuan berpikir kritis tetap menjadi faktor utama agar manusia mampu mengendalikan teknologi secara bijak.
Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah informasi, memahami konteks penggunaan AI, serta menghindari penyalahgunaan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif.
Ia menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menggantikan kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan.
Karena itu, pendidikan digital dan literasi teknologi dinilai perlu diperkuat sejak dini agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
Penyandang Disabilitas Dinilai Masih Minim Akses Pelatihan Teknologi
Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi penyandang disabilitas dalam memperoleh akses pelatihan teknologi yang inklusif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, lebih dari 75 persen penyandang disabilitas masih bekerja di sektor informal. Sementara itu, hanya sekitar 25 persen yang berhasil terserap di sektor formal.
Menurut Rerie, kondisi tersebut tidak lepas dari terbatasnya akses pendidikan dan pelatihan teknologi bagi kelompok disabilitas. Selain faktor infrastruktur, stigma sosial juga dinilai masih menjadi hambatan besar dalam menciptakan kesetaraan kesempatan kerja.
Ia menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk berkembang di sektor ekonomi digital jika diberikan akses pelatihan dan dukungan yang memadai.
Pelatihan AI Dinilai Buka Peluang Kemandirian Ekonomi
Rerie menilai pelatihan AI yang melibatkan generasi muda dan penyandang disabilitas menjadi langkah konkret untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih inklusif.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan memiliki keterampilan praktis untuk bekerja sebagai afiliator digital, kreator konten, hingga pelaku usaha berbasis teknologi.
Ia menilai ekonomi digital membuka peluang kerja yang lebih fleksibel dan dapat diakses berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses di sektor formal.
Selain meningkatkan keterampilan, pelatihan AI juga dianggap mampu membangun rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi bagi peserta dalam menghadapi persaingan kerja di masa depan.
Penguasaan AI Dinilai Penting untuk Hadapi Transformasi Digital
Rerie mengajak seluruh peserta pelatihan menjadikan momentum tersebut sebagai langkah awal untuk terus mengembangkan kemampuan digital dan berpikir kritis.
Menurutnya, transformasi digital akan terus berkembang dan memengaruhi hampir seluruh sektor pekerjaan. Karena itu, masyarakat perlu mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang semakin cepat.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan perusahaan teknologi dapat terus diperluas untuk menciptakan akses pelatihan digital yang lebih merata dan inklusif.
Dengan dukungan pelatihan yang tepat, penguasaan AI dinilai tidak hanya membantu meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kesetaraan yang lebih besar bagi penyandang disabilitas di era digital.
Baca Juga “Sonny Danaparamita Dorong Relawan Kuasai Teknologi AI dan Literasi Digital“