Kelompok Ransomware Gunakan Teknisi IT Palsu untuk Menyusup ke Kantor Korban
Ancaman kejahatan siber terus berkembang dengan metode yang semakin sulit dideteksi. Jika sebelumnya pelaku ransomware lebih sering menyerang dari jarak jauh melalui jaringan internet, kini sebagian kelompok kriminal siber mulai menggunakan pendekatan langsung dengan mengirim orang yang menyamar sebagai teknisi IT ke kantor target.
Modus tersebut menjadi perhatian para peneliti keamanan siber dan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI). Kelompok yang berada di balik serangan ini diketahui bernama Silent Ransom Group, sebuah geng siber yang menggunakan kombinasi infiltrasi fisik dan manipulasi psikologis untuk mendapatkan akses ke sistem perusahaan.
Laporan dari Google Threat Intelligence Group dan Mandiant menyebutkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, kelompok tersebut telah menyerang puluhan organisasi, terutama firma hukum. Para pelaku berusaha memperoleh akses ke komputer korban untuk mencuri informasi penting dan data rahasia perusahaan.
baca juga”Gemini AI Disalahgunakan, Google Gugat Jaringan Siber China“
Modus Teknisi IT Palsu Digunakan untuk Mencuri Data Korban
Dalam aksinya, anggota kelompok ransomware menyamar sebagai petugas dukungan teknologi informasi atau teknisi IT. Mereka mencoba memasuki area kantor korban dengan alasan membantu perbaikan sistem atau menangani masalah keamanan perangkat.
Setelah memperoleh akses ke komputer karyawan, pelaku dapat memasukkan perangkat USB berbahaya untuk mengambil dokumen sensitif. Mereka juga berupaya memasang perangkat lunak kendali jarak jauh agar anggota kelompok lainnya dapat mengakses sistem perusahaan dari lokasi berbeda.
Menurut Chief Technology Officer Mandiant, Charles Carmakal, metode memanfaatkan orang dalam, menyuap pegawai, atau melakukan penyusupan langsung ke gedung sebenarnya telah muncul dalam sejumlah kasus keamanan siber beberapa tahun terakhir.
Taktik ini menunjukkan bahwa perlindungan perusahaan tidak hanya harus berfokus pada sistem digital, tetapi juga keamanan fisik dan kesadaran karyawan terhadap upaya penyamaran.
FBI Peringatkan Taktik Baru Pemerasan Kelompok Silent Ransom Group
FBI sebelumnya telah mengeluarkan peringatan mengenai kasus pelaku yang menyamar sebagai teknisi dukungan IT untuk mendapatkan akses langsung ke perangkat milik korban.
Data yang menjadi target biasanya berupa kontrak perusahaan, informasi pribadi penting, dokumen keuangan, hingga data pajak. Berbeda dengan ransomware konvensional yang mengenkripsi file, Silent Ransom Group lebih mengandalkan metode pemerasan melalui ancaman penyebaran data yang telah dicuri.
Kelompok tersebut dilaporkan memiliki situs kebocoran data sendiri untuk menekan korban agar membayar uang tebusan. Apabila permintaan mereka tidak dipenuhi, data perusahaan, karyawan, maupun klien berpotensi dipublikasikan secara terbuka.
Kombinasi Phishing dan Social Engineering Jadi Senjata Utama
Selain melakukan penyamaran secara langsung, Silent Ransom Group masih menggunakan berbagai teknik serangan digital yang umum digunakan oleh pelaku kejahatan siber.
Metode tersebut mencakup pengiriman email phishing, panggilan telepon palsu, hingga rekayasa sosial atau social engineering. Pelaku memanfaatkan manipulasi psikologis untuk membangun kepercayaan korban sebelum mengarahkan mereka memberikan akses ke sistem perusahaan.
Dalam beberapa kasus, pelaku berpura-pura membantu proses migrasi data atau memperbaiki gangguan keamanan. Mereka kemudian meminta korban menggunakan aplikasi berbagi layar atau memanfaatkan fitur pada platform komunikasi seperti Zoom dan Microsoft Teams.
Melalui akses tersebut, pelaku dapat melewati lapisan keamanan digital tanpa harus meretas sistem secara langsung.
Perusahaan Perlu Memperkuat Keamanan Digital dan Fisik
Munculnya metode serangan yang menggabungkan penyusupan fisik dengan teknik siber menjadi peringatan bagi perusahaan untuk memperluas strategi perlindungan mereka.
Selain memperkuat sistem keamanan jaringan, perusahaan perlu menerapkan prosedur verifikasi identitas bagi teknisi atau pihak eksternal yang masuk ke area kerja. Pelatihan keamanan siber bagi karyawan juga menjadi langkah penting untuk mengenali modus penipuan yang semakin canggih.
Kasus Silent Ransom Group menunjukkan bahwa ancaman siber modern tidak selalu datang melalui layar komputer. Pelaku kini dapat memanfaatkan celah manusia dan keamanan fisik untuk mendapatkan akses terhadap data berharga milik perusahaan.
baca juga”Bank di Asia Pasifik Jadi Target Utama Hacker Global, Ini Modus Serangannya“