Modus Hacker Korea Utara Menyusup Perusahaan AS untuk Mendapat Dana Nuklir
Ancaman siber yang dikaitkan dengan Korea Utara terus berkembang dengan metode yang semakin sulit dikenali. Laporan terbaru perusahaan keamanan siber CrowdStrike mengungkap bahwa kelompok peretas yang diduga didukung negara menggunakan identitas palsu untuk masuk ke perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan berbagai negara lain.
Dalam laporan pemantauan periode April 2025 hingga Mei 2026, kelompok yang dijuluki “Famous Chollima” tercatat menjadi pelaku utama hampir separuh aktivitas serangan siber langsung atau hands-on-keyboard terhadap sektor teknologi AS. Metode ini berbeda dari serangan otomatis karena peretas secara aktif mengendalikan sistem yang berhasil mereka masuki.
baca juga”ChatGPT Tembus 1 Miliar, Kompetitor AI Tumbuh 10x“
Hacker Gunakan AI dan Identitas Palsu untuk Lolos Rekrutmen
Salah satu strategi utama kelompok tersebut adalah menyamar sebagai pekerja teknologi jarak jauh atau remote. Mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat tampilan wajah palsu secara real-time saat proses wawancara kerja daring.
Selain teknologi deepfake, mereka juga menggunakan dokumen identitas palsu atau dokumen curian agar terlihat sebagai warga negara dari negara yang tidak terkena sanksi. Taktik tersebut memungkinkan mereka melewati proses verifikasi perusahaan dan memperoleh akses resmi ke jaringan internal.
Setelah diterima bekerja, pelaku tidak hanya mengumpulkan informasi rahasia perusahaan. Mereka juga menerima pembayaran gaji yang kemudian diduga dialihkan untuk mendukung kepentingan pemerintah Korea Utara, termasuk pengembangan program militer dan nuklir.
Serangan Hands-on-Keyboard Sulit Dideteksi Sistem Keamanan
Menurut CrowdStrike, serangan hands-on-keyboard biasanya dimulai dari pencurian kredensial seperti kata sandi akun. Setelah mendapatkan akses, peretas memanfaatkan perangkat lunak yang sah di dalam sistem perusahaan agar aktivitas mereka terlihat seperti tindakan pengguna biasa.
Teknik ini membuat keberadaan mereka lebih sulit terdeteksi oleh sistem keamanan otomatis. Dengan akses yang bertahan lama, pelaku dapat mencuri data penting, kekayaan intelektual, hingga informasi strategis milik perusahaan.
Pemerasan Data dan Pencurian Kripto Jadi Sumber Pendanaan
Risiko yang muncul tidak berhenti pada pencurian informasi. Dalam sejumlah kasus, pekerja IT palsu tersebut melakukan pemerasan dengan mengancam akan menyebarkan data perusahaan apabila tuntutan pembayaran mereka tidak dipenuhi.
Kelompok peretas yang dikaitkan dengan Korea Utara juga aktif membidik industri aset digital, termasuk perusahaan pengembang blockchain dan platform kripto. Sektor tersebut menjadi sasaran karena memungkinkan perpindahan dana lintas negara dengan lebih sulit dilacak dibanding sistem keuangan konvensional.
Berbagai laporan keamanan siber mencatat bahwa pencurian aset kripto oleh kelompok yang terkait dengan Korea Utara telah menyebabkan kerugian miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir. Dana hasil kejahatan siber tersebut disebut menjadi salah satu cara untuk mengatasi tekanan sanksi ekonomi internasional.
Meningkatnya kemampuan peretas dalam memanfaatkan AI, identitas palsu, dan teknik infiltrasi menunjukkan perubahan besar dalam lanskap ancaman digital global. Perusahaan kini perlu memperkuat proses perekrutan, verifikasi identitas, serta sistem keamanan siber agar dapat menghadapi modus serangan yang semakin kompleks.
baca juga”Menlu Singapura Lakukan Lawatan Langka ke Korea Utara, Ini yang Dibahas“