Kronologi Hacker Bobol Polymarket hingga Aset Kripto Rp 9,2 Miliar Hilang
Insiden keamanan kembali mengguncang industri aset digital. Platform prediksi berbasis blockchain Polymarket dilaporkan mengalami peretasan yang menyebabkan dana jaminan (collateral) senilai lebih dari USD 520.000 atau sekitar Rp 9,2 miliar terkuras dari sistem.
Serangan tersebut terjadi pada 22 Mei 2026 dan menargetkan kontrak UMA CTF Adapter yang digunakan Polymarket di jaringan Polygon. Berdasarkan laporan dari CoinMarketCap, peneliti keamanan blockchain ZachXBT menjadi pihak pertama yang mengungkap adanya aktivitas mencurigakan melalui pemantauan transaksi on-chain.
Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa peretasan kemungkinan terjadi akibat kompromi akses administrator, bukan karena adanya celah pada kode smart contract. Temuan ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan kunci akses dalam pengelolaan protokol blockchain.
baca juga”Kelompok Ransomware Pakai Teknisi Palsu untuk Bobol Perusahaan“
Rangkaian Transaksi Mencurigakan Jadi Awal Pengurasan Dana
Data blockchain menunjukkan aktivitas tidak biasa mulai muncul sekitar pukul 09.00 UTC. Kontrak administrator Polymarket UMA CTF Adapter yang berada di alamat 0x91430C…E5c5 menjadi titik utama yang dimanfaatkan oleh pelaku.
Beberapa detik setelah aktivitas awal terdeteksi, kontrak menerima transfer token POL dari alamat yang berkaitan dengan Polymarket. Pada pukul 09.00:49 UTC, sebanyak 5.000 token POL masuk ke kontrak administrator.
Namun, hanya lima detik kemudian, hampir 9.994 token POL dipindahkan menuju alamat yang diduga dikendalikan oleh peretas. Transaksi serupa kembali terjadi pada menit yang sama, sehingga lebih dari 10.000 token POL berhasil keluar dari sistem dalam waktu kurang dari satu menit.
Menurut temuan ZachXBT, sejumlah alamat seperti 0x871D7c0f dan 0xf61e39C7 diketahui mengirim dana jaminan ke adaptor yang kemudian dapat ditarik oleh pelaku melalui akses administrator yang telah dikuasai.
Dugaan Kebocoran Kunci Akses Menjadi Penyebab Utama
Analisis awal menyebutkan bahwa insiden ini kemungkinan besar tidak berasal dari kelemahan pada teknologi smart contract maupun sistem oracle UMA yang digunakan Polymarket.
Para peneliti menduga peretas berhasil memperoleh kendali administrator melalui pencurian kunci akses (key theft) atau adanya kelemahan dalam proses pengelolaan hak akses.
Dengan memiliki otoritas administrator, pelaku dapat melakukan transaksi dan menarik dana jaminan tanpa harus melakukan eksploitasi teknis terhadap kode kontrak. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keamanan operasional menjadi faktor penting dalam ekosistem blockchain.
Kasus Polymarket Menambah Daftar Serangan Berbasis Akses Administrator
Peretasan Polymarket menunjukkan tren ancaman siber yang semakin beralih ke pencurian kredensial dan pengambilalihan akses penting. Pelaku kini tidak selalu mencari kesalahan pada kode, tetapi memanfaatkan kelemahan dalam pengelolaan keamanan internal.
Pola serangan seperti ini juga pernah terlihat dalam beberapa kasus besar sepanjang 2026. Peretasan terhadap Step Finance dengan kerugian sekitar USD 27,3 juta disebut berkaitan dengan kebocoran executive key dan mekanisme multi-signature.
Sementara itu, insiden yang menimpa Drift Protocol dengan nilai kerugian sekitar USD 285 juta pada April 2026 juga dilaporkan berhubungan dengan manipulasi akses kunci administrator, bukan karena kerentanan smart contract.
Keamanan Kunci Digital Jadi Tantangan Besar Industri Blockchain
Kasus yang menimpa Polymarket menjadi pengingat bahwa keamanan platform blockchain tidak hanya bergantung pada kekuatan kode program. Perlindungan terhadap private key, hak administrator, serta prosedur kontrol akses memiliki peran yang sama pentingnya.
Seiring meningkatnya nilai aset digital yang tersimpan dalam berbagai protokol blockchain, pengembang perlu memperkuat sistem keamanan berlapis dan melakukan audit berkala. Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko serangan serupa di masa mendatang dan menjaga kepercayaan pengguna terhadap ekosistem kripto.
baca juga”Investor Beralih ke Saham, Transaksi Kripto Korea Selatan Amblas“