Teknologi AI Mulai Ubah Biaya Produksi Film di Festival Cannes
Festival Film Cannes tahun ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran film-film terbaru dunia, tetapi juga menyoroti perubahan besar dalam industri sinema global. Salah satu isu utama yang banyak dibahas adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses produksi hingga pascaproduksi film.
Pemanfaatan AI dinilai mulai mengubah cara rumah produksi bekerja. Teknologi tersebut memungkinkan proses teknis dilakukan lebih cepat, efisien, dan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Sejumlah pelaku industri bahkan memprediksi AI akan menjadi bagian penting dalam sistem produksi film masa depan.
Baca Juga “AI, Disinformasi, dan Tantangan Baru Demokrasi Digital“
AI Dinilai Mampu Pangkas Biaya Produksi Film Secara Signifikan
Sutradara Xavier Gens menjadi salah satu sineas yang menyoroti dampak besar AI terhadap efisiensi produksi film. Menurutnya, teknologi tersebut mampu mempercepat pengerjaan efek visual yang selama ini memakan waktu panjang dan biaya tinggi.
Dalam wawancaranya dengan Reuters, Gens mengatakan penggunaan AI dapat memangkas durasi pengerjaan efek visual secara drastis. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu hampir satu tahun diperkirakan bisa selesai hanya dalam beberapa bulan.
“Seharusnya saya bisa menyelesaikannya dalam tiga bulan, bukan satu tahun,” ujar Gens.
Sutradara film Under Paris itu menjelaskan bahwa penggunaan AI sangat relevan untuk proyek yang membutuhkan manipulasi visual kompleks. Film tersebut banyak menampilkan adegan hiu raksasa dengan efek visual intensif.
Menurut Gens, biaya visual effects atau VFX yang sebelumnya mencapai sekitar 4 juta euro berpotensi turun menjadi 2 juta euro dengan bantuan teknologi AI yang lebih canggih. Penghematan tersebut tidak hanya berdampak pada anggaran, tetapi juga mempercepat alur kerja tim produksi.
Industri Film Global Mulai Adaptasi Teknologi AI
Perubahan tersebut sejalan dengan analisis lembaga keuangan Morgan Stanley yang memprediksi AI dapat memangkas biaya produksi film dan televisi hingga 30 persen. Efisiensi terbesar diperkirakan terjadi pada pekerjaan teknis repetitif seperti editing, rendering, dan pengolahan efek visual.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri hiburan memang mulai mengadopsi berbagai perangkat berbasis AI. Teknologi ini digunakan untuk mempercepat proses penyuntingan gambar, sinkronisasi audio, pembuatan storyboard digital, hingga simulasi visual sebelum syuting dilakukan.
Meski begitu, penggunaan AI juga memunculkan perdebatan mengenai batas kreativitas manusia dan otomatisasi teknologi. Sebagian pelaku industri khawatir AI dapat mengurangi peran pekerja kreatif jika digunakan secara berlebihan.
Festival Cannes Tetap Utamakan Kreativitas Manusia
Di tengah berkembangnya teknologi AI, Festival Film Cannes tetap mempertahankan aturan ketat terkait integritas karya sinema. Penyelenggara memastikan film yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI generatif tidak dapat mengikuti kompetisi utama Palme d’Or.
Direktur Festival Cannes, Thierry Frémaux, menegaskan bahwa kreativitas manusia masih menjadi fondasi utama dalam perfilman berkualitas.
“Untuk mengendarai sepeda listrik, Anda harus bisa mengendarai sepeda biasa,” kata Frémaux.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi hanya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan kreatif sineas. Cannes ingin memastikan nilai artistik dan visi manusia tetap mendominasi proses pembuatan film.
Pandangan serupa juga disampaikan sutradara peraih Oscar Guillermo del Toro. Ia menilai masyarakat sering menyamakan semua bentuk AI tanpa memahami fungsi dan penerapannya secara spesifik.
“Banyak perdebatan terjadi karena semua bentuk AI sering disamakan, padahal fungsinya berbeda-beda,” ujar Del Toro.
Menurutnya, AI memiliki banyak kategori penggunaan, mulai dari otomatisasi teknis hingga alat pendukung kreativitas. Karena itu, diskusi mengenai AI seharusnya dilakukan secara lebih terukur dan tidak disederhanakan.
Teknologi AI Mulai Diterima dalam Produksi Kreatif
Di sisi lain, sejumlah perusahaan teknologi menilai AI dapat menjadi alat pendukung yang membantu meningkatkan kualitas karya kreatif manusia. CEO Respeecher, Alex Serdiuk, mengatakan teknologi rekayasa suara berbasis AI seharusnya tidak lagi dianggap kontroversial.
Menurutnya, AI dapat membantu meningkatkan performa manusia dalam produksi audio tanpa menghilangkan unsur kreativitas asli. Teknologi seperti voice cloning dan restorasi suara kini mulai digunakan dalam industri perfilman dan gim.
“Penggunaan AI untuk meningkatkan performa manusia seharusnya tidak lagi dianggap kontroversial setelah beberapa karya berbasis teknologi tersebut mendapat pengakuan penghargaan,” ujar Serdiuk.
Kehadiran perusahaan teknologi besar seperti Meta Platforms, Alphabet Inc., NVIDIA, hingga OpenAI di Cannes Film Market semakin memperlihatkan eratnya hubungan antara teknologi dan industri kreatif.
Perusahaan-perusahaan tersebut memperkenalkan berbagai perangkat AI yang dirancang untuk membantu sineas dalam proses produksi film. Mulai dari pengolahan gambar otomatis, pembuatan efek visual, hingga teknologi suara berbasis AI menjadi sorotan utama dalam pameran industri tersebut.
AI Diprediksi Jadi Bagian Penting Masa Depan Perfilman
Perkembangan AI di industri film diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Teknologi ini dinilai mampu membantu rumah produksi menekan biaya operasional sekaligus mempercepat proses kreatif di tengah persaingan industri hiburan global yang semakin ketat.
Meski demikian, banyak sineas menilai keseimbangan tetap diperlukan agar penggunaan AI tidak menghilangkan sentuhan artistik manusia. Festival Cannes melalui kebijakannya menunjukkan bahwa inovasi teknologi tetap harus berjalan berdampingan dengan kreativitas dan nilai sinematik yang autentik.
Dengan kombinasi antara kemampuan manusia dan efisiensi teknologi, AI diprediksi akan menjadi salah satu faktor penting yang membentuk masa depan industri perfilman dunia.
Baca Juga “Sumrize, Startup AI Asal Subang Indonesia yang Ubah WhatsApp Jadi Asisten Kerja Pintar“